anakveteran

Ikon

Just another WordPress.com weblog

Nasionalisme, Perkembangan Teori dan Definisi (bagian 1)

“Nasionalisme membutuhkan begitu banyak keyakinan pada apa yang sebenarnya tidak demikian. Mempercayai sejarah yang keliru merupakan bagian dari menjadi bangsa”.[1]

Mudah memang jika kita mengartikan nasionalisme menjadi paham ke-bangsaan dengan memilah kata Isme (paham) dengan Nation (bangsa). Akan tetapi bagaimana jika kita melihat kata-kata Filosof sekelas Ernest Rennant yang mengakui nasionalisme sebagai paham yang pada dasarnya tidak memuat criteria objektif yang tidak akan dapat terukur. Bahkan tak salah pula jika kita menilai bahwa Nasionalisme sebagai paham yang irasional. Meski telah banyak para teoritisi dengan latar belakang paradigma keilmuan sejak zaman klasik hingga kontemporer mencoba memberikan pengertian mengenai apa itu nasionalisme, namun tetap saja penjelasan mengenai apa itu nasionalisme tetap berada pada wilayah abu-abu.[2]

Jika kita temukan satu textbook yang mencoba mendeskripsikan nasionalisme ke dalam ranah objektif seperti politik, ekonomi dan sebaginya, maka akan dengan segera kita temukan buku pembanding yang menjabarkan nasionalisme ke dalam topik bahasan subjektif seperti kebudayaan. Belum lagi dengan adanya kontradiksi di kalangan intelektual sendiri antara yang mencoba mengaitkannya dengan otoritas negara dengan yang tidak. Lalu bagaimana kemudian dengan definisi yang mengemukakan bahwa nasionalisme adalah prinsip kebangsaan yang bersifat spiritual dan transenden? Akankah kita dapat sepakat begitu saja dengan ungkapan Rennant yang menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan paham yang lahir akibat kekeliruan sejarah?

Sejarah Definisi Nasionalisme

Dari setiap ragam definisi yang dikemukakan mengenai nasionalisme, agaknya saya sepakat dengan upaya kategorisasi yang dilakukan oleh Hutcinson dan Smith dengan menjelaskan bahwa dalam setiap definisi nasionalisme dari era klasik hingga modern, setidaknya terdapat tiga (3) unsur yang biasa dimunculkan yakni: Autonomus, Unity, dan Identity. Autonomus atau otonomi mengacu kepada satu prinsip atau logika pemikiran yang menjelaskan nasionalisme adalah satu pemikiran yang menganggap bahwa nation adalah satu entitas komunitas yang mampu berdiri sendiri secara utuh. Dan seperti dalam konteks perkembangan sejarah, kemampuan biasa mengacu pada upaya setiap nation untuk mendirikan satu self government.

Unity atau kesatuan adalah unsur dalam pemikiran nasionalisme yang menerangkan bahwa suatu nation adalah suatu komunitas yang hidup dalam kesatuan sejarah atau nasib yang sama. Dimana dengan keberadaanya, nasionalisme dapat mengikat setiap individu yang berbeda-beda berdasarkan ras, etnis, maupun kelas-kelas ekonomi berada dalam sebuah komunitas bernama nation. Dan ketiga Identity atau identitas adalah satu unsur yang menyertakan nasionalisme sebagai sebuah paham pembeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya. Dalam hal ini Nasionalisme selalu memiliki muatan primordialis yang selalu menguatkan perbedaan antara “Us” dan “Them”.[3]

Nasionalisme Klasik (State Centris)

Meskipun uraian Smith dan Hutchitson mengenai unsur-unsur nasionalisme diatas bukan berarti ingin menjelaskan bahwa nasionalisme sama dengan paham tentang negara, akan tetapi jika dilihat dari beragam teori dan banyak literatur klasik eropa abad pertengahan, agaknya mengarah pada bentuk seperti itu. (Allport 1927: 291-301). Seperti halnya Carlton Hayes mendefiniskan nasionalisme sebagai: Sebuah kondisi kejiwaan yang menyatakan bahwa loyalitas seseorang terhadap negara-nasionalnya dalam bentuk ide maupun fakta adalah superior dibandingkan dengan loyalitas yang lain (1937: 6) maka dalam term yang hampir mirip Hans Kohn mendefinisi nasionalisme sebagai: kondisi jiwa, dimana loyalitas tertinggi individu ditujukan bagi negara bangsanya. (1955: 9).

Dalam uraiannya kemudian Hanz Kohn menjelaskan bahwa kemunculan nasionalisme jenis ini dapat dilacak kali pertama di Inggris abad XVII ketika sebagian besar golongan orang-orang Israel yang menetap disana membuat sebuah gerakan pembaharuan dengam membawa semangat/isu identas kebangsaan. Dengan corak untuk menghidupkan kembali semangat seperti: bangsa yang terpilih, harapan masehi, serta pembebasan manusia dari perbudakan dan takhyul, gerakan tersebut pun berhasil mampu membuat bangsa inggris me-redefinisi dirinya pada saat itu sebagai bangsa Israel baru yang mampu menyesuaikan diri dengan semangat zaman yang meng-agung-agungkan rasionalitas.

Dari fakta sejarah itu, Hanz Kohn pun menilai bahwa nasionalisme inggris yang muncul ketika itu memiliki corak keagamaan yang kental dengan nilai-nilai modernitas reinesance.[4] Hanya saja gerakan itu tidak terlalu berdampak pada gejolak politik yang terlalu besar pada negara, maka tak heran kemudian jika banyak pemikiran nasionalisme klasik yang menganggap bahwa gerakan nasionalisme (klasik) adalah gerakan reformasi keagamaan tanpa menghancurkan stabilitas politik kenegaraan yang ada. Jika mungkin kemunculan nasionalisme pada saat itu mampu meruntuhkan tingkat kepercaryaan masyarakat terhadap gereja-gereja yang ada secara signifikan, maka tidak begitu halnya dengan negara (kerajaan kala itu) sebagai symbol kebangsaan yang masih dianggap sebagai pemberi legitimasi tertinggi bagi sebuah bangsa. Sehingga tak heran jika menurut Smith, para teoritisi klasik mempercayai bahwa negara merupakan aktor terpenting dalam nasionalisme yang tidak hanya berfungsi untuk menjadi simbol kekuatan suatu bangsa, tetapi juga menjadi actor utama untuk menjaga perkembangan identitas sebuah bangsa agar selalu dapat berlaku sustainable terhadap perkembangan zaman.[5]

Nasionalisme Modern

Jika revolusi prancis tidak pernah terjadi, mungkin definisi nasionalisme bagi dirinya sendiri tidak akan pernah memiliki hubungan dengan urusan politik khususnya negara. Jika pada masa sebelumnya gerakan nasionalisme hanya terbatas pada masalah kultur keagamaan, maka ketika revolusi prancis bergulir, penampakan nasionalisme menjadi berubah drastis, begitu politis dan sangat revolusioner hingga memberikan kesan bahwa jika nasionalisme digulirkan di satu negara, maka tatanan social politik suatu negara itu pun akan berubah.

Dengan adanya slogan Liberty, equality, dan fraternity yang digulirkan, maka nasionalisme pun mulai mendapatkan makna modernnya sebagai paham yang memiliki nilai egalitarianism (jika tidak mau menyebut kata-kata demokrasi. Pen). Jika sebelumnya nasionalisme selalu dirujuk pada paham kebangsaan yang didominasi oleh keberadaan kaum elit (monarki), maka mulai pada massa ini nasionalisme mendapatkan artian yang baru sebagai paham kebangsaan yang merujuk pada keberadaan massa rakyat. Adalah Rousseau (1770-1850) yang pertama kali menolak keterhubungan makna elitis nation dengan kelas berkuasa, tetapi bukan dengan rakyat (people).3 Baginya, penolakan seperti itu bukan hanya didasari alasan politis yang berimplikasi terhadap munculnya sikap egalitarianisme dan self-determination masyarakat untuk menciptakan system kekuasaan yang baru, tetapi juga alasan kebutuhan bangsa terhadap budaya bersama (shared common culture).

Bagi Dawa Norbu, Argumentasi teoritis Rousseau itu dianggap menjadi titik balik penting dari pemikiran dari era klasik menuju modern dimana sebelumnya nasionalisme selalu bekerja berdasarkan nilai-nilai tradisi semata yang menarik ketertarikan massif, menjadi sebuah sistem-ide yang memadukan dua hal: Pertama, budaya tradisional yang menyediakan kekuatan emosi guna memistifikasi orang-orang secara massif terlibat dalam gerakan. Dan kedua, pikiran-pikiran rasional seperti egalitarianisme yang tidak hanya mengenalkan solidaritas bangsa secara objektif tetapi juga mampu menyediakan framework rasional bagi permasalahan sosial yang terjadi dan menentukan arah bagi masa depannya.


[1] Ungkapan Ernest Rennant : C`oubliette et je dirai mene le erreur historique, sent un facteur essential de la formation d` une nation et c`est ainsi que le` progress des etudes historiques est souvent Rennant dalam Hosbawn. E. Nasionalisme menjelang Abad XXI. Terj.(Yogyakarta : 1992) PT Tiara Wacana Yogya Hal.

[2] Baca pernyataan Smith dan Hutcitson yang menyatakan bahwa salah satu kesulitan besar dalam mempelajari nasionalisme adalah karena tidak pernah adanya satu definisi yang benar-benar bisa disepakati oleh semua kalangan. Hutcitson. J. and Smith A.D. Oxford Readers.Nationalism.(Oxford : Oxford University Press.1994)

[3] Hutcitson. J. and Smith A.D. Oxford Readers.Nationalism.(Oxford : Oxford University Press.1994) Hal. 5

[4] Kohn. H. Nationalism, Its Meaning and History (New Jersey: Van Nostrand Company.1995) Hal.21-23

[5] Smith, A. D. Nationalism in The Twentieth Century. (New York : 1979) New York University Press. Hal. 3

bersambung ke bagian 2……


[1] Ungkapan Ernest Rennant : C`oubliette et je dirai mene le erreur historique, sent un facteur essential de la formation d` une nation et c`est ainsi que le` progress des etudes historiques est souvent Rennant dalam Hosbawn. E. Nasionalisme menjelang Abad XXI. Terj.(Yogyakarta : 1992) PT Tiara Wacana Yogya Hal.

[2] Baca pernyataan Smith dan Hutcitson yang menyatakan bahwa salah satu kesulitan besar dalam mempelajari nasionalisme adalah karena tidak pernah adanya satu definisi yang benar-benar bisa disepakati oleh semua kalangan. Hutcitson. J. and Smith A.D. Oxford Readers.Nationalism.(Oxford : Oxford University Press.1994)

[3] Hutcitson. J. and Smith A.D. Oxford Readers.Nationalism.(Oxford : Oxford University Press.1994) Hal. 5

[4] Kohn. H. Nationalism, Its Meaning and History (New Jersey: Van Nostrand Company.1995) Hal.21-23

[5] Smith, A. D. Nationalism in The Twentieth Century. (New York : 1979) New York University Press. Hal. 3

Iklan

Filed under: Nasionalisme, Teori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WAU_colored('zyxcfr9h47wb', '0054a6fff200')
%d blogger menyukai ini: